All About Writing

Brahmanto Anindito on March 4, 2010 at 14:28

Fantasi. Dongeng. Dari pengarang Indonesia. Kata salah satu penerbit besar di Jakarta, nggak pernah ada yg benar2 sukses di pasaran. Krn itu mungkin banyak penerbit yg nolak saat disodori karya2 bergenre itu.

Tp penerbit kan banyak, Lis. Nggak usah putus asa. Pergi aja ke toko buku atau perpus. Cari novel2 yg sekiranya senapas dgmu. Lalu lihat penerbitnya siapa. Ketemu? Ya udah, kirim aja naskahmu ke sana.

Terbitin sendiri jg oke. Mulai dari urus segalanya sendiri sampai segalanya diuruskan orang lain. Bisa!

Bahkan mau diterbitin tp nggak keluar biaya pun bisa!! Di Lulu.com kamu bisa nerbitin buku cetak (backpaper atau hardcover) ber-ISBN secara gratis. Lulu akan memprintkan jika ada orang yg pesan. Lulu jg akan mengirimkan buku itu ke pembelimu. Setelah itu Lulu memotongkan pembayarannya sbg komisi mereka. Kamu nggak keluar biaya apa2 kan? Tp secara de facto, bukumu diakui telah terbit oleh internasional. Sayangnya, di Lulu jatuhnya harga bukumu lbh mahal dibanding buku atau e-book lain. Jd kemungkinan lakunya kecil, kecuali promosimu oke.

Intinya, banyak alternatif menerbitkan karyam. Semua punya kelemahan dan kelebihan. Tinggal yg lbh cocok dgmu yg mana.

Nggak tahu kenapa pengarang fantasi Indonesia blm pernah ada yg bnr2 sukses. Mungkin krn udah terlalu banyak beredar sinetron2 yg logikanya fantasi ya, hehehe.

Genre paling laku setahuku drama. Penulis lain kasihan? Nggak dong. Namanya jg tren. Kalau suatu saat ada karya yg menonjol di genre tertentu, bisa aja genre itu yg mendadak jd tren baru. Contohnya Ayat-ayat Cinta yg membangkitkan tren novel2 relijius.

Saranku, berkarya ya berkarya. Jdlah dirimu sendiri. Nggak usah lihat tren dulu. Yg penting garap dg sebaik2nya. Kalau itu disukai orang dan booming, ya selamat. Kalau tidak, kita tetep puas karya kita nongol. Yg kasihan itu kan kalau penulis berusaha mati2an ngikut tren tp ternyata tetep nggak laku.

Penerbit yg baik nggak minta2 duit ke penulis.