Cerpenku: Dengarkan Adinda Bicara

Cerpen ini sudah rampung kutulis sejak aku di bangku kuliah skitar tahun 2003.

 Koran minggu Haluan waktu itu mau memuat cerpenku ini namun aku harus rela beberapa potong ceritanya dicut. Waktu itu, entah kenapa aku menolaknya, sekarang malah jadi kepikiran....

Bel pulang sudah berbunyi dari tadi dan Adinda merasa sudah seabad menunggu, sambil terduduk lesu Adinda menyaksikan teman-teman barunya berjalan riang menuju rumah.

 "Pulang duluan ya dinda." pamit salah satu dari mereka lantas tersenyum malu-malu.

 Adinda balas menyeringai seperti kuda, dan beberapa detik sesudahnya bersungut2 lagi dengan jidat yang berlipat seratus.
 "Uuuh kapan sih mama dateng?" lagi-lagi dia bertanya dalam hati.
 Adinda melirik jam tangannya. "Whatt? sudah ampit sejam?"
 gadis kecil itu lalu berdiri dan melihat jauh ke ujung jalan. Kemudian dia perhatikan suasana sekolahnya yang mulai sepi. "Gawatt." katanya mulai frustasi. "Sebentar lagi sekolah pasti akan tutup, sedangkan aku masih disini, sendiriann. "ratapnya.

Lalu Adinda mulai berdoa, "Oh tuhan.. bilang sama mama supaya cept datang, dinda takud disini sendirian." Sendirian? Adinda baru saja menyadari kalau dari tadi dia tidak sendirian. matanya memperhatikan anak perempuan yang tiba-tiba berdiri tepat didepannya, tersenyum manis. "Kamu siapa?" tanya Adinda. Gadis kecil itu masih saja tersenyum. Matanya yang bulat hitam menatap Adinda dengan lembut. Lalu jari-jarinya yang kecil dan kurus menunjuk ke arah Adinda. "Aku?" tanya Adinda. "Ohh Iya!" Adinda menepuk jidatnya. "Kamu pasti baru pertama kali melihat aku disini. Aku baru pindah kesini. Kenalkan, namaku Adinda." Adinda mengulurkan tangannya yang serta merta disambut hangat. "Aku kelas 4B, kamu sekolah disini juga?" Gadis kecil itu diam sejanak, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum lagi. "Ooh, jadi kamu cuma main aja disini. Pasti rumah mu deket sini, iya kan?" tebak Adinda. Anak perempuan itu mengangguk cepat lalu tersenyum lagi. "Kalo gitu duduk disebelah ku yuk, sambil nungguin mamaku dateng." Teman barunya itu pun langsung duduk disebelah dinda dengan bersemangat "Aku dari tadi nunggu mama. Karna baru tinggal disini, aku jadi belum bisa pulang sendiri." ceritanya tanpa diminta. Teman barunya mengagguk-angguk tanda mengerti. Adimda menghela nafas, "Sebenarnya aku tidak mau pindah kesini! Maaf ya, bukannya aku tidak suka kotamu ini. Tapi aku kangen banget main sama teman-temanku di sekolah yang dulu. Tapi aku tidak bisa menolaknya.. Papa sama mama mana mau mendengar alasanku. Bang dodi dan kak Titan juga. Mereka bilang aku ini anak kecil yang tidak tau apa-apa. Jadi masih harus menurut saja. Aku tidak pernah didengarkan.." Adinda tertunduk lesu. Gadis disebelahnya ikut-ikutan manyun. "Eh, tapi aku tidak sedih lagi kok." kata Adinda tiba-tiba. "Kan sudah ada kamu.." mereka lalu tertawa. "Tpi kenapa aku cerita ke kamu ya? 'kan kita baru kenal?" Lalu mereka berdua tertawa lagi. Beberapa saat kemudian, "tin..tin.." Sebuah mobil sedan putih behenti. Seorang gadis remaja melongokkan kepalanya keluar dari mobil sambil melambaikan tangannya. "Dinda, ayo pulang." panggilnya. Adinda berdiri."Ternyata kakak yang jemput. Sampai besok ya.." Adinda segera berlari menuju mobilnya. Sedan putih itu pun lalu hilang dikeramaian jalan meninggalkan halte bis di epan sekolah diiringi lambaian dan senyum bahagia seorang gadis tuna wicara, Raha Dewi. Esok harinya... 15 menit setelah bel berbunyi, adinda bersorak riang melihat teman barunya sudah menunggu di Halte bis, tempat kemarin mereka berkenalan. "Kemarin aku lupa tanya namamu!" Adinda menghampiri Raha."Mungkin karena aku ngomong terus jadi kamu gak ada kesempatan, iya kan?" Raha tersenyum, lalu menggeleng. "Kamu memang baik, mau mendengarkan temanmu kalau bercerita.. Jarang- jarang lho ada yang sabar mendengarkan klo aku lagi cerita." goda dinda. Taha tertawa. :Kamu seperti Sinta, temanku disekolah yang dulu. Dia juga pendiam, tapi pintar sekali..." Adinda kemudian larut dalam kenangannya bersama teman2 nya dulu sementara Raha dengan penuh perhatian mendengarkan. "Adinda" panggil satu suara. Adinda menghentikan ceritanya dan menoleh, "Mama!" pekiknya girang. "Telat juga ya sedikit." Mama melirik jam tangannya. "Tapi kamu sepertinya sudah punya teman akrab." Mama memperhatikann teman anaknya itu, "Teman sekolahnya dinda ya? kok gak pake seragam? sudah pulang ya?" tanya mama bertubi-tubi. Raha terdiam, lalu menoleh ke arah Adinda. Hanya belum sempat Adinda menjelaskan, mama sudah menarik tangannya. "Ya sudah, Dindanya pulang dulu ya." Mama lalu menarik tangan Adinda. Lalu menyetop sebuah metro mini. "Sekarang mama mau ajarin kamu pulang pake angkot, biar besok2 sudah bisa pulang sendiri. Perhatikan ya.." Hari2 berikutnya.. Adinda sudah bisa pulang sendiri, tapi dia selalu menyempatkan diri untuk bicara dengan teman misteriusnya itu, sampai suatu saat Adinda menyadari sesuatu. "Kamu tidak pernah bicara." Raha tersentak, tidak menyangka Adinda akan mengatakan itu. "KEnapa?" tanya Adinda." Katakan sesuatu... Siapa namamu?" Raha menatap Adinda dengan bimbang, anak itu terdiam agak lama, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Er, Eh.. Rrr.." Raha berusaha mengeja namanya"err...Rrrhhaa haaa." Adinda tercekat."Ja.. jadi kamu.. biisu!" Raha mulai menangis. "Huh! Aku bodoh sekali." upat Adinda dalam hati. "Sudah. jangan nangis" Tapi Raha terus saja menangis, malah semakin keras, hatinya sedih sekali dia juga takut Adinda akan menjauhinya. Tapi bagi Adinda Raha justru membuatnya takut. Anak itu menangis sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang aneh dan gerakan2 yang aneh pula. Adinda merasa kalau Raha mencoba menyampaikan sesuatu atau banyak hal kepadanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti. "A.. Aku pulang saja. Kamu buat aku bingung." Adinda bangkit dan berlari pergi. Tidak menoleh lagi pada Raha yang masih terus saja menangis. Besoknya dan besoknya lagi bukan hari-hari yang menyenangkan bagi Adinda. Dia merasa kehilangan sesuatu. Raha, anak itu sudah tidak perna kelihatan lagi. "Raha tidak main kesini lagi." Pertanyaan teman sekelasnya siang itu membuat Adinda terkejut. "Kamu kenal?" Meta mengangguk. "Dulu dia sekolah disini, sekelas denganku kelas 1 dan 2. Dia pintar sekali Dinda, selalu juara kelas. Tapi setelah jadi korban tabrak lari, dia tidak bisa bicara lagi. Melihat kamu bicara dengannya kemaren2 ini. Aku senang sekali, karena selama ini Raha selalu menghindari kami teman2 ya. Sepertinya dia malu. Karena dulu ada beberapa anak yang sering mengejek2 dan meniru2kan suaranya." jelas Meta panjang lebar. Adinda mengagguk lemah. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Siang itu dirumahnya, Adinda duduk dikursi makan dengan wajah lesu. "Waduhh, ada yang melamun!" Suara Dodi mengagetkannya. "Kenapa? gak nafsu makan? Lai berantem sama teman?" "Jangan sok tau." bantah Dinda keseal. "Eits, langsung marah. Kamu sih suka inget2 temanlama terus, teman baru jadi illfeel deh deket2 sama kamu." Adinda makin sewot."Bukan itu! Masalahnya tu be-" Adinda coba menjelaskan. "Udahh minta maaf aja.. jangan malu minta maaf kalo salahh.." "Bukaaannnn!!!" teriak Adinda.. Dodi yang kaget melihat pekikkan Adinda langsung ngacir menjauhi masalah. Sore harinya Adinda mendekati Titan yang sedang asyik memotong kukunya ditaman belakang rumah. "Kak titan." panggil Dinda. "Ng" jwab Titan sekedarnya. "Kak Titan, Dinda mau bicara." Titan menyahut, "Bicara aja, kamu mau apa? Minta dibantuin bikini pe er, susunin lemari baju? nyariin buku yang ilang..?" "Bukaaann" bantah dinda. "ALahh.. ngaku aja." "kenapa sihh gak ada yang mau denger kalo dinda bicara?" tanya Adinda. Titan melihat adiknya, "Gak ada yang menarik!" jawabnya acuh. Adinda menjadi geram, lantas merebut gunting kuku dari tangan kakaknya,"APa yang bikin kakak tertarik? Kalo cerita nak kecil korban tabrak lari, trus jadi bisu dan gak bisa sekolah, menarik tidak?" Adinda ngotot. "Ih, ngomong apa kamu?" tanya Titan penasaran. "Mau denger tidak?" Tanya Adinda. "Balikin dulu gunting kukunya." titah titian. "Denger dulu." Adinda bersikeras. Titan lalu mengalah dan akhirnya benar2 mengiklaskan diri mendengar adik bungsunya itu bercerita. Dan malam itu, Titian mengulang ceriita Adinda pada keluarganya. "Anaknya pintar dan baik lho ma, Pa. Kak Titan juga pernah liat kan?" "Mama juga." Mama ikud mengingat-ingat. "Lalu?" "Lalu ya... Dinda mau kita semua membantunya untuk..." "untuk operasi biar bisa bicara?" potong Dodi. Tapi kemudian si Abang langsung tutp mulut setelah yang lain bilang "tssstt1" "Mm.. memangnya bisa?" tanya Adinda agak tertarik. "Yang bener aaaja!" Dodi bersorak lagi. "Kasi toko gorengan aja kali ya,"Titan coba memberi ide. Jidat Adinda berkerut, "Jangan yang itu" prtesnya. "Tapi orang bisu gak bisa bicara lagi sayang. Itu artinya pita suaranya sudah rusak." jelas mama. "Tappi dia pinter ma, kan sayaang kalo berhenti sekolah."Dinda merajuk lagi. "Adinda benar" Papa yang dari tadi diam dan cuma manggut-manggut akhirnya angkat suara. "Maksud papa?" yang lain serempak ingin tau. "Dia bisa sekolah lagi, kenapa tidak. Papa denger sekarang pemerintah sudah menggalakan program baru sehingga dia bisa berbaur dengan yang lain di sekolah yang sama." jelas papa. "Bisa begitu ya Pa?" mama masih miir. "Insyaallah bisa Ma, nanti Papa hubungi kelapa sekolahnya." "Horreee!!" Dinda bersorak kegirangan, yang lain pun ikud senang. Besok paginya, Papa Adinda menepati janjinya uuntuk biara dengan kepala sekolah Adinda. Tak lama kemudian, Raha Dewi pun dijemput ke rumahnya dan diminta untuk melanjutkan sekolah lagi dengan bantuan pemerintah. "Maafkan DInda ya Raha waktu itu ninggalin kamu di Halte Bis" Adinda meminta maaf. Raha tersenyum, air matanya mengucur haru karena bahagia. Sekian, bagus tidak ya cerpennya???