A. Wacana, Analisis Wacana, Analisis
Wacana Kritik dan Diskursus
Wacana merupakan lingkup terluas pada kajian
linguistik. Wacana memuat tentang bagaimana bahasa digunakan oleh manusia dan
juga fungsi bahasa dengan berbagai macam pilihan bentuk yang terkonstruksi
dalam pikiran manusia. Analisis wacana merupakan pemahaman
rangkaian tuturan melalui interpretasi semantik yang berkaitan dengan pemahaman
bahasa dalam tindak bahasa (what is said from what is done) dan diarahkan
kepada masalah memakai bahasa secara fungsional.
Menurut Schiffrin (1994) dalam Oktavianus (2006) wacana
adalah sepenggal bahasa yang tengah menjalankan fungsinya (language in use).
Bahasa dalam konteks ini dapat berupa kata, frasa atau sebuah klausa saja.
Dalam suatu tindak komunikasi, ujaran yang sedang dipakai mengandung suatu
muatan makna yang didukung oleh berbagai komponen sehingga membentuk suatu
teks. Teks-teks itu digunakan untuk mengekspresikan diri, menyampaikan maksud
dan tujuan tertentu serta dapat juga mempengaruhi lawan tutur, atau hanya
sekedar sekedar ungkapan basi-basi. Ini hampir senada dengan pendapat Rocour
(2002 ) dalam Oktavianus (2006) bahwa
wacana adalah relasi antara peristiwa
dengan makna. Dalam berkomunikasi melalui bahasa, seorang penutur menyampaikan
pendapatnya, keinginannya dan tujuannya didalam wacana yang dapat berupa kata-kata,
frasa atau kalimat yang mengandung makna dari si penutur yang ingin disampaikan
kepada lawan tuturnya. Hal ini disebabkan adanya peristiwa tertentu yang
terjadi sehingga menjadi topik dalam wacana yang diberikan. Peristiwa ini dapat
berupa konteks, yaitu segala-sesuatu yang menyertai teks wacana yang
disampaikan.
Berdasarkan penjelasan tentang wacana diatas, kita
dapat mengambil contoh dari status-status pengguna facebook yang mengomentari
adanya pemadaman lampu bergilir di kota Padang, seperti berikut ini:
Contoh wacana ini merupakan
rangkaian kata-kata yang tengah menjalankan fungsinya untuk mengungkapkan
kekesalan pengguna facebook karena pemadaman listrik telah menyebabkannya
memakan bubur karena nasi yang dimasak dengan kompor listrik tidak dapat
difungsikan lagi. Fungsi bahasa ini disampaikan melalui gaya bahasa sindiran
kepada pihak PLN yang berwenang menangani persoalan listrik negara. Pemadaman listrik
bergilir juga merupakan peristiwa atau konteks yang menyertai wacana sehingga
pembaca dapat mengetahui makna sesungghnya dibalik ungkapan pada status
pengguna facebook diatas.
Analisis wacana Kritis (Critical
Discourse Analisis)
Analisis wacana termasuk ilmu yang
baru muncul beberapa puluh tahun belakangan. Fakta menunjukkan bahwa pada mulanya
analisis wacana justru dilakukan oleh pakar sosiologi, antropologi dan filsafat
sementara kebanyakan aliran linguistik membatasi analisisnya hanya pada
kalimat.
AWK
berkembang dalam tradisi linguistik di benua Eropa. Pusat-pusat
perkembangannya antara lain di Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, Austria, dan
Australia. Beberapa nama dapat disebut sebagai pengembang bidang kajian itu,
antara lain Fairclough, van Dijk, Kress, dan Wodak.
Dalam
beberapa karyanya, Fairclough (1989; 1995), misalnya, menyebut bahwa teorinya
adalah gabungan dari linguistik fungsional-sistemik Halliday, linguistik
Fowler, dan teori sosial baru Foucault.
Menurut Wodak dan Fairlough,
analisis wacana kritis melihat sebuah wacana sebagai bentuk dari praktik
sosial. Penelaahan atas wacana tidak hanya dilakukan pada level naskah namun
dilanjutkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi naskah. Analisis wacana
memiliki dua model, yaitu model Norman Fairlouch yang melihat teks memiiki
konteks dan Ruth Wodak yang menilai teks mempunyai sejarah.
Analisis teks dimaksudkan untuk
menemukan dan mengungkap makna, hal ini dapat diakukan dengan menganalisa
bahasa secara kritis. Teks dianalisis unsur linguistiknya dengan cara melihat
kosakata, tata kalimat dan semantik. Ia juga memasukkan unsur-unsur koherensi
dan kohesivitas, yatu bagaimana antar kata atau kalimat tersebut disusun
sehingga membentuk pengertian (Eriyanto, 2001)
Dalam thesis Anang Santosa
diungkapkan bahwa analisis wacana kritis (critical discourse analysis)
adalah analisis bahasa dalam penggunaannya dengan menggunakan paradigma bahasa
kritis. Analisis wacana kritis (AWK) sering dipandang sebagai oposisi analisis
wacana deskriptif yang memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa
semata-mata. Dalam AWK, wacana tidak dipahami semata-mata sebagai kajian
bahasa. AWK memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis. Hasilnya
bukan untuk memperoleh gambaran dari aspek kebahasaan, melainkan
menghubungkannya dengan konteks. Hal itu berarti bahwa bahasa itu dipergunakan
untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.
Diskursus
Analisis praktik diskursus
memusatkan perhatian pada bagaimana proses produksi dan konsumsi teks. Teks
dibentuk lewat sebuah praktik diskursus yang nantinya menentukan bagaimana teks
tersebut diproduksi. Semua praktik tersebut merupakan praktik diskursus yang
membentuk wacana. Praktik inilah yang menentukan bagaimana teks tersebut
terbentuk dalam wacana.
B. Teks, Pre-Teks, Konteks, Ko-Teks,
Interteks
Teks adalah bahasa yang yang
sedang menjalankan fungsi atau tugas tertentu seperti menyampaikan pesan atau informasi,
dan biasanya dibarengi dengan konteks situasi. Bentuknya bisa percakapan dan
tulisan dari bentuk-bentuk yang kita
gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan. Hal penting mengenai
sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan
terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari
makna-makna. Makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang
lain dikodekan dalam tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat
dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam
arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output) ; sesuatu yang dapat direkam
atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan
proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau
memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam
otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi
tersebut, jangan sampai terjadi kesalahpahaman. Adapun kriteria teks sebagai
berikut:
Kriteria yang bersifat internal teks:
Kohesi :
Hubungan antara bagian dalam teks yang ditandai dengan penggunaan unsur bahasa
. Kohesi mengacu pada hubungan bentuk/surface
structure.
Koherensi : keterkaitan antara bagian yang satu dengan
bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh/ deep structure.
Kriteria yang bersifat eksternal teks:
Intertekstualitas : setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas : cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah.
Kriteria yang bersifat eksternal teks:
Intertekstualitas : setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas : cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah.
Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas
(penerimaan informasi).
Informativitas : kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas : situasi tuturan
Informativitas : kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas : situasi tuturan
Fairlough melihat teks dalam
berbagai tingkatan. Sebuah teks tidak hanya menampilkan bagaimana sebuah objek
digambarkan sekaligus bagaimana hubungan antar objek didefinisikan. Setiap teks
pada dasarnya dapat diuraikan dan dianalisis pada ketiga unsur berikut:
|
UNSUR
|
YANG INGIN DILIHAT
|
|
Representasi
|
Bagaimana peristiwa, orang,
kelomok, situasi, keadaan ataupun yang ditampilkan dan digambarkan dalam
teks.
|
|
Relasi
|
Bagaimana hubungan antara
wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam
teks
|
|
Identitas
|
Bagaimana identitas wartawan,
khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
|
Konteks
Konteks adalah segala sesuatu
yang menyertai teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua
kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks
linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik
itu mencakup penyebutan kata depan, kata sifat, kata kerja, kata kerja bantu,
dan proposisi positif. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan
berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan,
partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan
adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi
berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar
adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah
ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah
bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.
Teks dan konteks merupakan
sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang
terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan
konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks
Konteks memasukkan semua situasi
dan berbagai hal yang ada diluar teks dan memiliki pengaruh dalam pemakaian
bahasa, contohnya: partisipan dalam bahasa, keadaan dimana teks itu diproduksi,
fungsi yang dimaksud dan lain-lain.
Koteks
Koteks adalah semua unsur
kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana.
Koteks dapat pula berupa unsur teks
dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf,
dan bahkan wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau
memperjelas makna.
Contoh:
Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.
Wacana dua adalah peringatan bagi orang yang akan melewati
jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju
kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat
setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks
(teks penjelas) bagi teks lainnya.
Interteks
Interteks
bermaksud sesuatu wacana bergantung kepada wacana yang lain. Melalui
interteks, sesuatu wacana lebih mudah difahami oleh pembaca atau
pendengar. Kefahaman seseorang terhadap sesuatu wacana yang dibaca atau
didengar akan membantu menghasilkan wacana.
Istilah
intertekstual pada umumnya dipahami sebagai hubungan suatu teks dengan teks
lain. Menurut Kristeva, tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan, tiap
teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain. Kristeva berpendapat bahwa setiap teks
terjalin dari kutipan, peresapan, dan transformasi teks-teks lain. Sewaktu
pengarang menulis, pengarang akan mengambil komponen-komponen teks yang lain
sebagai bahan dasar untuk penciptaan karyanya. Semua itu disusun dan diberi
warna dengan penyesuaian, dan jika perlu mungkin ditambah supaya menjadi sebuah
karya yang utuh
3. Cari teks sederhana dan analisis dengan menggunakan salah satu pendekatan dari sekian banyak pendekatan dalam analisis wacana!
Seperti yang telah diuraikan dalam pengertian wacana
diatas, Schiffrin (1994) dalam Oktavianus (2006) wacana adalah sepenggal bahasa
yang tengah menjalankan fungsinya (language in use). Bahasa dalam konteks ini
dapat berupa kata, frasa atau sebuah klausa saja. Dalam suatu tindak
komunikasi, ujaran yang sedang dipakai mengandung suatu muatan makna yang
didukung oleh berbagai komponen sehingga membentuk suatu teks. Teks-teks itu
digunakan untuk mengekspresikan diri, menyampaikan maksud dan tujuan tertentu
serta dapat juga mempengaruhi lawan tutur, atau hanya sekedar sekedar ungkapan
basi-basi.
Sebuah situs jejaring sosial facebook, menfasilitasi
penggunanya mengekspresikan diri, menyampaikan maksud, tujuan serta perasaannya
dalam bentuk teks. Teks tersebut kemudian berupa status yang dapa dibaca oleh
semua teman facebooknya. Berkenaan dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang
ada di kota Padang, Sumatera Barat, banyak pengguna facebook yang
mengekspresikan kekesalannya, sindirannya serta umpatannya di status facebook.
Jenis-jenis teks yang disampaikan sangat menarik karena memiliki gaya bahasa
yang berbeda-beda diantaranya adalah ironi, sinisme, hiperbola, paradoks serta
pertanyaan retoris.
Sementara itu, Rocour (2002 ) dalam Oktavianus (2006) menyatakan bahwa
wacana adalah relasi antara peristiwa
dengan makna. Dalam berkomunikasi melalui bahasa, seorang penutur menyampaikan
pendapatnya, keinginannya dan tujuannya didalam wacana yang dapat berupa
kata-kata, frasa atau kalimat yang mengandung makna dari si penutur yang ingin
disampaikan kepada lawan tuturnya. Hal ini disebabkan adanya peristiwa tertentu
yang terjadi sehingga menjadi topik dalam wacana yang diberikan. Peristiwa ini
dapat berupa konteks, yaitu segala-sesuatu yang menyertai teks wacana yang
disampaikan.
Berdasarkan penjelasan tentang wacana diatas, kita
dapat mengambil contoh dari status-status pengguna facebook yang mengomentari
adanya pemadaman lampu bergilir di kota Padang, seperti berikut ini:
Contoh wacana ini merupakan rangkaian
kata-kata yang tengah menjalankan fungsinya untuk mengungkapkan kekesalan
pengguna facebook karena pemadaman listrik telah menyebabkannya memakan bubur
karena nasi yang dimasak dengan kompor listrik tidak dapat difungsikan lagi.
Fungsi bahasa ini disampaikan melalui gaya bahasa sindiran kepada pihak PLN
yang berwenang menangani persoalan listrik negara. Pemadaman listrik bergilir juga
merupakan peristiwa atau konteks yang menyertai wacana sehingga pembaca dapat
mengetahui makna sesungghnya dibalik ungkapan pada status pengguna facebook
diatas.
Pendekatan analisis wacana dapat
dilihat dari perspektif Pragmatik. Pendekatan pragmatik digunakan karena
banyaknya makna yang dapat diungkapkan didalam teks yang dituliskan oleh
pengguna facebook dalam mengomentari pemadaman listrik bergilir. Pengungkapan
makna-makna tersebut tidak dapat hanya dilihat secara semantik karena seringkali
membutuhkan telaan yang dalam, sehingga pendekatan secara pragmatik sangat
tepat untuk menganalisa bahasa yang digunakan dalam status-status tersebut.
Dalam
studi pragmatik, bermacam-macam makna yang dikemukakan membutuhkan sejumlah
aspek yang harus dipertimbangkan. Aspek-aspek tersebut adalah:
1. Penutur
dan lawan tutur
Dalam wacana status pengguna
facebook, penutur dan lawan tutur adalah penulis status dan pembaca, serta
pemberi komentar atas status tersebut. Aspek-aspek lain yang berhubungan dengan
ini adalah :
Usia: remaja dan orang dewasa
Latar Belakang Sosial
Ekonomi: Kalangan Menengah atau sedang, mereka yang dapat mengakses internet.
Pekerjaan: Ibu Rumahtangga,
Dosen, Mahasiswa, dll
Jenis Kelamin: Pria dan
Wanita
Tingkat Keakraban: Dekat dan
Sedang. Antara Penulis, pembaca dan komentator biasanya adalah orang yang
saling mengenal.
2. Konteks
tuturan
Konteks tuturan penelitian
linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang
relevan dari tuturan yang bersangkutan.
Dalam hal ini konteksnya
adalah adanya pemadaman lampu bergilir yang dilakukan oleh PLN mengganggu semua
aktivitas masyarakat diberbagai profesi dan berbagai bidang kehidupan.
3. Tujuan
Tuturan
Bentuk – bentuk tuturan yang
diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan. Dalam hubungan
itu, bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan
maksud yang sama. Dalam hal ini berbagai bentuk status yang ada difacebook
dengan komentar yang berbeda-beda memiliki maksud yang sama terhadap PLN, yaitu
menyampaikan kekesalannya dan kesulitannya akibat pemadaman lampu tersebut.
4. Tuturan
sebagai bentuk tindakan atau aktivitas
Bila gramatika menangani
unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam
studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dsb. Pragmatik berhubungan
dengan tindak verbal (verbal act) yag terjadi dalam situasi tertentu. Dalam
hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret
dibanding dengan tata bahasa.
-
Tuturan sebagai entitas yang konkret bagi
penutur dan lawan tuturnya. Dalam hal ini status yang dituliskan
penggunafacebook merupakan sesuatu yang jelas dan dapat dipahami dan dirasakan
oleh pembaca ide dan pengalaman dari penulis status tersebut, terlebih karena
pembaca dan komentator sering mengalami hal yang sama juga, yaitu pemadaman
lampu.
-
Waktu yang digunakan umumnya adalah pada saat
listrik mati dan pengguna facebook dapat menyatakan kekesalannya lewat laptop
ataupun handphone.
-
Tempat pengutaraannya adalah di media jejaring
sosial facebook yang merupakan tempat berkumpulnya keluarga, sahabat, dan kenalannya.
5. Tuturan
sebagai bentuk tindak verbal
Tuturan
yang digunakan didalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam
kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan
yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh pada status
berikut ini:
Status
diatas dapat ditafsirkan sebagai pernyataan atau perintah. Namun apabila kita
mengetahui konteks pragmatiknya secara jelas, kita akan memahami maksud dari
status tersebut sebenarnya bukanlah untuk meminta PLN mematikan lampu, namun
hanya untuk menginformasikan bahwa dia
sedang bersiap-siap menerima pemadaman listrik tersebut.
Lebih
lanjut dalam pendekatan
pragmatik, pembahasan dapat dilihat dari
tindak tutur, implikatur, presuposisi, deiksis, kesantunan berbahasa.
Implikatur
Implikatur merupakan segla sesuatu
yang tersembunyi dibalik penggunaan bahasa yang secara aktual, benar dan
sesungguhnya. Sehingga apa yang tampak pada teks atau bahasa secara struktural
benar memiliki makna yang tidak dapat hanya dijelaskan secara semantik. Namun
memerlukan kajian mendalam tentang teks dan konteksnya sehingga dapat memperoleh
makna yang sesungguhnya. Contoh dalam Wijana (1996:39) :
(1) A.
Bambang datang
B. Rokoknya
disembunyikan
Pada contoh (1) A, kita dapat
mengetahui ada yang datang bernama Bambang. Namun melihat reaksi pada B yang
mengatakan “Rokoknya disembunyikan.” Memberikan implikasi sebagai berikut:
a. Mungkin
Bambang ini seorang Perokok berat
sehingga tiap kali melihat rokok dia akan langsung merokok.
b. Bambang
adalah seorang yang pelit dan suka meminta rokok secara gratis kepada
teman-temannya.
Konsep
implikatur
Implikatur merupakan konsep yang
cukup penting dalam pragmatik karena empat hal:
Pertama : konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional
atas fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori-teori linguistik.
Kedua : konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna
berbeda yang dikatakan secara lahiriah.
Contoh:
A: Jam berapa sekarang
B: Korannya sudah datang
Secara konvensional tuturan, kedua
kalimat itu tidak berkaitan. Namun kita dapat melihat implikasi bahwa koran
datang selalu pada pukul 7 pagi, misalnya. Sehingga kalau koran sudah datang
kemungkinan waktu yang ditunjukkan adalah lewat pukul 7 pagi.
Ketiga: Konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi
deskripsi semantik.
Contoh:
A: Mungkin ada kehidupan di planet
mars
B: Mungkin ada kehidupan di planet
Mars mungkin pula tidak.
Kalimat A sudah mengandung pengertian yang terkandung
pada kalimat B.
Keempat : konsep implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta
atau gejala yang secara lahiriah berkaitan.
Contoh: Dia cantik ya..
Ujaran dia cantik diatas tidak memiliki makna yang sebenarnya namun
dikatakan untuk menyindir seorang perempuan. Dari contoh ini dapat dilihat
bahwa cara kerja metafora, gaya bahasa dan peribahasa dapat dijelaskan oleh
konsep implikatur.
Status
diatas merupakan pertanyaan retoris yaitu pertanyaan yang tidak memerlukan
jawaban. Pertanyaan ini diajukan oleh warga yang bernama Nando kepada PLN, namun maknanya bukanlah untuk meminta PLN untuk mematikan
listrik, namun hanya untuk mengungkapkan sindirannya terhadap perusahaan
tersebut.
Implikasi
yang dapat ditangkap dari status diatas adalah:
a. Biasanya
PLN mematikan listriknya, namun pada pukul 13.20 WIB tidak ada pemadaman
listrik yang terjadi.
b. Nando
yakin bahwa PLN akan mematikan listrik sebentar lagi
c. Nando
sudah siap-siap menghadapi pemadaman listrik tersebut seperti telah mematikan
peralatan elektronik yang mungkin dapat rusak dengan adanya pemadaman listrik
tersebut.
Status
diatas dapat digolongkan menjadi tindak tutur ekspresif yang merupakan ungkapan
kekesalan penutur karena PLN mematikan listrik dipagi hari. Karena pada pagi
hari banyak orang memerlukan listrik untuk berbagai keperluan rumah tangga,
akademis maupun perkantoran. Dari status diatas dapat diimplikasikan hal-hal
sebagai berikut:
a. PLN
mematikan listrik dipagi hari
b. Banyak
anggota masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi membutuhkan listrik di
pagi hari untik melaksanakan rutinitasnya.
c. Neri
seorang ibu rumah tangga dan Neri sangat membutuhkan listrik untuk mencuci dan
memasak nasi. Sehingga adanya pemadaman listrik menyusahkan Neri yang harus
memasak dan mencuci secara manual yang lebih menyita waktu dan tenaga.
Status
diatas juga merupakan tindak tutur ekpresif dengan mengubah sebuah ungkapan
yang bersifat umum seperti tiada hari tanpa membaca. Namun pada konteks ini,
penulis mengganti membaca dengan mati lampu. Meskipun sebenarnya yang dimaksud
adalah mati listrik. Namun .masyarakat pada umumnya lebih sering mengatakan
“mati lampu” dari pada “mati listrik atau listrik mati”.
Status
diatas memberikan implikasi sebagai berikut:
a. PLN
mematikan listrik setiap hari
b. PLN
menyebabkan lampu-lampu di rumah Dewi mati
Status
diatas mengandung makna direktif yang bersifat mempengaruhi. Pembaca status ini
akan mendapatkan ide bahwa ketika listrik dimatikan, banyak sekali pekerjaan
kantor yang tidak dapat lagi dikerjakan sehingga pilihan yang terbaik adalah
dengan meninggalkan kantor. Hal ini meskipun tidak akan mendapatkan reaksi yang
spontan namun ada benarnya juga. Tujuan dari orang yang menyatakan status ini
dapat diperluas lagi menjadi efek yang lebih besar, sehingga apabila banyak
pekerjaan dikantor yang tidak dapat dikerjakan, maka perusahaan akan mengalami
kegagalan, dan akan berdampak buruk bagi perekonomian pemilik perusahaan
beserta karyawannya.
Implikasi
diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a. PLN
mematikan listrik
b. Listrik
di kantor Dewi mati, lampu mati
c. Karyawan
di kantor Dewi tidak dapat bekerja karena komputer mereka harus dihidupkan
dengan listrik.
d. Kantor
Dewi tidak menghidupkan Genset atau tidak memilikinya.
e. Karyawan
di kantor Dewi hanya duduk-duduk saja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya.
f. Dewi
berpendapat bahwa lebih baik pulang ke rumah dan bertemu anak-anaknya dari pada
di kantor tidak melakukan apa-apa.
Kesimpulan
Dari
berbagai jenis tindak tutur, implikatur serta gaya bahasa dari analisis diatas dapat
dilihat bahwa dengan melakukan analisis wacana pragmatik kita dapat
menyingkap realitas sosial. Dan bahasa
menfasilitasi kita untuk dapat menganalisanya secara ilmiah.
Berbagai
kesulitan yang dialami oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi
akibat adanya pemadaman listrik bergilir dapat dilihat dengan menelaah implikatur
dari status mereka. Selain itu gaya bahasa yang digunakan merupakan hal yang
juga sangat menarik untuk diteliti.



