Subuh ini sehabis sahur saya iseng liat2 blog yang udah lamaaaaaa dicuekkin, kasian amat... kalo bukan ownernya yg liat siapa lagi ???? hehe...
Troz, tibah-tibah ketika lagi asyik adventuring dr blog ke blog, saya tertegun membaca tulisan di salah satu blog, tertulis disitu si empunya blog merasa sebal krn sering mendapatkan statement dr teman2nya sehabis pulang travelling
" puas-puasin aja jalan-jalan mumpung belum punya anak. nanti kalau udah punya anak, susah kemana-mana ".
and so the rest of the writings complained and claimed that may be those regards children and money as obstacle for having a holiday or travelling.. then I commented,
lucu juga baca tulisannya mbak...
kok imagenya rada2 emosi gitu ya mbak...?
Maaf yaa.. mungkin maksudnya temen2 mbak itu bukan 'setelah
punya anak ga bisa liburan' ato 'anak jd alasan' dsb.
Dan malam ketika kami menginap di hotel suami saya selalu
bilang "Kangen honeymoon berdua aja sama mama, munkin kalo anak2 kita udah
besar2 dan udah gak papa kalo ditinggal kita bisa honeymoon lagi ya ma kayak
dulu. Kita bisa ngapa2in aja.....dst"
lalu saya bilang" iya pah, masalahnya kalo anak2 kita
dah besar2 dan udah bisa ditinggal ato malah ga mau diajak lagi, kitanya yg gak
kuat ngapa2in aja wkwkk..."
selintas kami menganggap itu adalah guyonan, namun dalam
hati saya menyadari ada kerinduan dan kebutuhan suami untuk diperlakukan
sebagai suami dan kekasih hati, bukan hanya sebagai ayah yang sibuk menggendong
dan mengajak bercanda anak2nya selama liburan. Bagaimanapun, suami saya adalah
laki2 yang masih membutuhkan perhatian khusus, tidak mengada2 mba, hanya
seperti menggandeng tangannya ketika berjalan berdua, berpelukan berdua, dan
hal2 yang sering di lakukan waktu pacaran dulu.
Mungkin jika dilakukan setiap hari akan bosan juga dan tidak
terasa istimewa, namun bagi kami yang sibuk seharian bekerja dan malam
menghabiskan waktu memastikan bahwa anak2 dapatkan quality time dg orang
tuanya, memang kadang merasa iri juga liat pasangan suami istri yg melakukan
travelling berdua, tanpa mengaggap anak dan uang adalah beban.
Now the point I wanna share here is not about reading and replying the blog, but about the essence of the talk. What about holiday and children ? .... and money? are they matters?
No.. No..No...
Jangan sampe anak2 kita menangis darah karena membaca artikel ini (Ohhhh orang tua kita menganggap kita ini beban buat liburan....hiks.. hiks.. hiks...)
Enggak Lah... That's entirely wrong opinion! pasti! Yakin! Anak adalah anugrah dan sampai kapanpun akan begitu... Seorang teman, sahabatku dia, keceplosan bicara begini ".... karena apa pun yang gw punya, gw tetep gak akan bisa menandingi lu, karena lu jauh lebih kaya dr gw, lu tau kenapa? karena lu punya anak2..."
sedih juga gw nulisnya... tapi pemirsa, sahabat saya ini jauh.. jauh... jauh lebih dlm segala hal dr saya.. Tuhan maha pengasih dan penyayang, semua rahmat dan karunianya ada pada kita jika kita dapat membuka mata dan mensyukurinya, karena apa yang kita miliki belum tentu dimiliki oleh orang lain... setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri jika dibandingkan dengan orang lain, dalam bentuk apapun, baik yg kita sadari ataupun yang tidak kita sadari.saya percaya itu... karena Tuhan Maha Adil pada umatnya ...... dan kalau kita fokus pada apa yg kita miliki dan mensykurinya maka Tuhan akan menambahnya....Aminnn...
Ok now let's get back to the point...
Menurut saya, kita para orang tua bekerja mencari nafkah untuk memastikan agar anak2 kita mendapatkan apa yg mereka butuhkann, pakaian, makanan, pendidikan, perhatian dan kasih sayang...
Huff.. menuliskannya saja sudah gemetar, saya belum mampu memenuhi semua itu, kebutuhan lseperti mobil dan rumah mengurangi jatah anak2 untuk les, dan mendapatkan pakaian yg bagus (terus-menerus).
Disisi lain, kekuarangan ini saya manfaatkan untuk mengajarkan anak hidup 'prihatin' dan sabar.
Pengalaman membuktikan bahwa anak yg dibesarkan dengan memenuhi semua yg diinginkannya dan UANG, not becoming into positive result. Anak menjadi manja dan semakin banyak menuntut untuk dibelikan lebih dan mendapatkan lebih....
Perhatian dan kasih sayang saya berikan disela2 kesibukan saya yang (sibuk tak menentu), suami memberikan perhatian dan kasih sayangnya sepulang kerja. Sering kami memhabiskan waktu bersama sehabis mangrib dengan saling jahil2an dll... saya memilih utk meninggalkan aktivitas dapur dan sumur demi bermain bersama mereka. Namun harus diakui, kahadiran gadget (HP papanya yg banyak game, dan sinetron Catatan Hati Seorang Istri ) mengurangi kebersamaan kami.
Saya bukan sinetron maniak, namun jujur efeknya sangat buruk bagi keluarga kami. Si kakak juga mulai kecanduan main game, setiap kali papanya pulang kerja yg ditanya 'HP papa mana?" dan setelah saya dan suami memutuskan utk menghapus game, kakak Yaya malah minjem ipad om nya (Hadowhhhhhh)
Pikir... Pikir... pikirrr!!!!
Keputusan untuk mengambil mobil dan rumah dengan cicilan yang WOWW memang mengganggu aktivitas liburan keluarga tahun ini, namun ketika kakak untuk ke dua kalinya memperoleh juara satu, saya memohon pada papanya utk mencarikan alternative liburan yg murah meriah.
Liburan memang penting bagi keluarga kami, karena anak2 mendapatkan perhatian dan kasih sayang penuh outdoor dan jauh dr gadget dan TV hehe... namun tak jarang anak2 kena marah juga selama liburan, abis bagaimana lagi masa kalo salah didiemin aja? yang salah tetep salah... bukan berarti mama ga sayang (gtu)
Alternative liburan yang pertama adalah ikud Andung-Angku (mertua saya) atao Kakek dan neneknya keluar kota, Ato ikud Aciknya (Adek Ipar saya) berenang... Jadi anak2 bisa liburan dan mama papanya bisa pacaran dulu sebentar hehehhee.....
Namun liburan dalam satu keluarga itu tetap penting, lalu sambil mengajarkan anak ilmu ekonomi saya bilang "Kak lebaran ini kita dirumah saja, karena kita kan kemaren beli rumah, jadi uang papa sama mama ga cukup buat jalan2 sekarang. Tapi papa sama mama kan masih kerja cari uang, biar uangnya cepat terkumpul, kakak bantu nabung ya... kalo sudah cukup akhir tahun nanti kita bisa pergi."
Saya sadari tidak bisa memaksakan situasi pada anak umur 6 tahun seperti kakak Yaya. Hanya saja suatu hari, ketika saya dirumah sakit menemani papa yg dirawat dengan anak. Nyanya, anak saya unur 3,5 tahun duduk dengan neneknya sambil bercerita,
Nyanya : " Nek, nyaya sekarang gak mau jajan2 lagi"
Nenek : "Kenapa gak mau?"
Nyanya : "Iyaa... nyanya mau simpan uangnya buat beli pagar rumah.. nanti kalo jajan terus uang mama gak cukup untuk beli pagar, nanti masuk maling gimana?"
Subhanallah... anakku, kadang saya berfikir apakah terlalu dini mengajarkan anak hal-hal seperti itu.
Namun yang saya katakan benar adanya... dan saya berkomitmen tidak akan mengatakan hal yang mengada2 pada anak2, atau istilahnya buat saya 'cerita di atas awan"
Suatu hari kakak main dirumah bersama teman2 sekolahnya yang umurnya jauh lebih besar dari Yaya (karena Yaya masuk SD umur 5 th dan alhamdulillah juara 1 dikelasnya, meskipun paling kecil umurnya)
Teman2nya bilang
Puput: Besok aku ke Jakarta sama papa aku
Nurul : Aku juga pergi liburan, besok mau ke Aceh.
Kakak Yaya: Aku juga mau ke Jakarta jugak.
Puput: Benar nih? Kamu gak bohong kan?
Kakak lantas berlari ke arahku sambil bertanya , "Ma, kita mau ke Jakarta juga kan ma?" katanya dengan penuh harap. Lalu aku bilang, "Mungkin kalo kakak rajin menabug, kelas 4 SD kita udah bisa liburan ke Jakarta, karena kalo ke Jakarta itu uangnya banyak nak, kita hatus bayar pesawat dulu, ongkosnya mahal."
Lalu kakak kembali gabung sama teman2nya sambil bilang,
"Iya aku mau ke Jakarta jugak nanti kelas 4 SD kata mamaku" lalu mereka membicarakan hal yg lain.
Memang saat keluarga beranjak settle ulai nyicil mobil dan rumah ada hal2 yang perlu di rem seperti halnya liburan. Namun liburan alternative seperti saya contohkan tadi bisa jadi solusi selain mengajarkan anak2 mandiri dan meberikan waktu bagi pasangan suami istri.
Atau minggu sore bisa menikmati ombak di Pantai atau ke taman bermain kota dengan membayar karcis dan menghabiskan buget sekitar 50rb an.. murah meriah... namun anak2 tau bahwa orang tua tidak hanya meminta mereka belajar, mandi dan makan serta membersihkan rumah, tapi juga membiarkan mereka bermain dan menikmati masa kanak2 mereka.
Oiya, selain mengajarkan anak2 berhemat, anak juga diajarkan untuk tidak PELIT, karena HEMAT dan PELIT itu berbeda. Suatu hari kami jalan2 ke pusat grosir dan menemukan satu lusin bendo cantik yang harganya murah, saya pikir dengan membeli setengah lusin (Minimal boleh beli stengah) biasanya saya cuma dapat dua, jadi saya belilah dan saya bilang sama kakak, "Kak, ini bendo kita belinya banyak, kebetulan mama dan papa dapat uang lebihh ,buat kakak satu, adek satu, sisanya boleh kakak kasi teman2 kakak ya."
Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana gembiranya kakak ketika membagikan bendo kepada teman2nya
Baru turun mobil, langsung lari ke rumah temannya dan balik dengan teman2nya yg sudah memakai bendo dikepala sambil senyum2...
Yahhhh itulah cerita saya.. mencoba melalkukan yg terbaik buat anak2 dalam semua kekurangan saya sebagai ibu.....
Mencoba menyeimbangkan pendididkan kasih sayang perhatian dan liburan
Bukan masalah uang untuk liburan, bukan masalah anak2nya, bukan masalah apa2
Semua pasti ada jalan keluarnya
Insyaallah....
Amin
No comments:
Post a Comment