Saturday, July 4, 2020
Mana yang lebih baik menyekolahkan anak di Sekolah Negeri vs Sekolah Swasta
Hallo mama2 bunda2 seonline rayaa.....
Sebenarnya judul ini kontroversi banget yaaa .....
Tapi aku nulis ini tujuannya buat sharing, dr pengalaman aku, teman2 aku, keluarga dan ipar2 aku...
(Udah kaya laporan hasil penelitian ya kan?? hehe...)
SD NEGERI
PLUS:
Biaya sekolah nya gratis, tidak banyak kegiatan ekstra yang mewajibkan anak membayar sejumlah uang.
Kebanyakan guru umumnya udah berumur, tapi mayoritas dapat memberi nilai dengan cukup fair.
Anak terlindungi dari sifat show off.... dan gak ada ajang pamer2an siapa yang kaya dan miskin disini, jadi dia bisa low profile.
MINUS:
metode pengajarannya umumnya masih sangat konvensioal khususnya utk SD negeri yang berlokasi di pingir2an kota. Bahasa pengantar yang digunakan oleh gurunya mayoritas masih bahasa daerah khusunya ketika memarahi murid. Tone atau nada bicara serta kata-kata yang dikeluarkan bisa Nauzubillah... Kok aku tau?
Aku suka ngumpet dibawah jendela kelas anakku ketika dia belajar dan aku dengerinlah semua itu.
Kenapa aku lakuin itu, ya karena anakku masih kecil dan dia masih dalam masa probation (waktu itu)
Lagi, Fasilitas sekolah juga sangatlah terbatas. termasuk toilet, tempat yang hampir selalu bau dan jorok.
Kembali ke pengalaman ku!
Untuk sekolah negeri pertama, tempat anakku sekolah dari kelas 1 hingga kelas 3.
Anak2 nya umumnya menengah ke bawah,
BAHASA yang digunakan umumnya (tidak semua memang ) sembarangan dan bahasa kasar.
beberapa anak punya hobi mencuri dan dan mengganggu teman2nya.
Namun, guru2 kelasnya sangatlah pandai dalam mengajar dan mengurus anak.
Aku bisa simpulkan bawah menjadi guru SD adalah profesi yang paling berat dan mulia karena guru mendidik anak segalanya..... pelajaran dan kepribadian.
Di SD yang ke-2, samalah teman2nya juga mayoritas seperti itu, plus ditambah lagi dengan persoalan: beberapa anak mengalami puberitas dini, sehinggga sering kali meresahkan terhadap lawan jenis.
Guru-gurunya di sekolah ini umumnya sudah tua jadi........... maklumi aja.
Yang bisa aku simpulkan dari persamaan kedua SD ini adalah:
1. Toiletnya sangat awful, faktor kebersihan hanya diperhatikan dihalaman dan depan sekolah. Tapi wc nya selalu bau dan jorok. (My daughter never use them at all, trust me!!!)
2. SD negeri tidak begitu me-maintain informasi dg orang tua murid. Saya sudah berkali2 wanti2 dengan semua guru kelasnya :
"Buk, anak saya rumahnya cukup jauh dari sekolah, dan saya juga bekerja. Jadi kalo misalnya ada kegiatan mendadak dan sekolah dipulangkan lebih awal dari biasanya, toloooong hubungi sayaaa.... karena anak saya tidak bisa plg sendiri, dan di rumah juga gak ada siapa2...."
Dan mereka SERING KALI memulangkan anak lebih awal, tanpa prior-information and none of them have ever called me...
Dan inilah pemicu stress akuh berkali2 karena ketika aku jemput anak, sekolah udah sepi, dan aku terpaksa harus mengunjungi rumah temannya satu persatu mencari keberadaan anak ku ini...
(Stress dan cemas tingkat tinggi melandaa)
Sekilas info: Anak ku sudah aku bekali hp yang cuma bisa nelp dan sms itu, tapi dia kecurian 4 x handpone di 1 sekolah aja, dan gakkkkkk adaaaaaaaa respon dari gurunya sama sekaliiiiiii utk menemukan pelaku pencuri itu.....
Jadii akuu sebagai ibu, memang meminta si kakak untuk memilih teman... awalnya waktu dia masih kelas 1 dan 2, dia baik ke semua orang, mulai dari pensil, buku, uang jajan dibagi semua, namun apa yang terjadi, mau dijajanin sampe seratus kali pun, mereka tetap kembali lagi jahatin si kakak...
malah makin seenakknya...
Akhirnya aku bilang gini :
"Now you see, money can't buy kindness, kalo emang orangnya baik, tanpa kita kasi apa2 pun dia tetep baik, tapi kalo orgnya jahat, dikasi apapun gak akan ada pengaruhnya. Jadi bertemanlah HANYA dengan orang yang 1 bicara dg baik dan sopan sama kk, 2. tidak pernah mengganggu atau menjahili kkk dan 3 anak yang pintar."
Dan itulah yang dia ikutin, sehingga anakku sangat selektif dalam berteman.
Dampak positifnya : She is still my cute girl. meskipun carut marut bahasa di sekolahnya, dia gak pernah sekalipun meniru atau mengucapkan kata2 kasar itu di rumah, semarah apapun dia.
Dampak negatifnya : Teman2nya jadi "galinggaman" banyak yang mau berteman namun karena dia cuekin jadi berubah jahat dan usil dan meledek dia.
Setelah beberapa kali menangis karena di bully, akhirnya aku mengajarkan anakkku untuk berjiwa cuek dan berani membalas kalo dia dijahatin.
Bunda, saya bukan orang yang sempurna, hanya mengajarkan sesuatu pada anak agar dia bisa berjuang sendiri, berjalan sendiri dan tau membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan salah. mana yang harus dilakukan dan yang tidak.
SD SWASTA
Apa yang bunda fikirkan ketika mendengan tentang SD swasta??? Tau sama tau yaaa...
PLUS
Lingkungan sekolah sangat bersih sampai ke toilet2nya juga bersih.
Guru-gurunya masih muda dan mulai mengajar dengan berbagai metode pengajaran modern dan kreatif.
Komunikasi antar guru dan murid sangat baik, mereka akan sering menghubungi kita dalam urusan apaaa saja.
Banyak kegiatan2 sekolah atau ekstrakurikuler dan fasilitas sekolah yang sangat lengkap.
MINUS
Of Course Mom, the cost id a fortune, it is very high.
Biayanya mahal. (Well, bervariasilah... tp bagi ekonomi menengah kayak aku, cukup berasa mahalnya)
Persaingan gengsi ya antar anak, ya antar orang tua.
Banyak anak yang suka pammer, entah itu tas baruuuu, pena baruuuu, gadget baruuu, ataupun baru pulang liburan dari manaa.
Emak2nya juga ada yang ber geng2 dan sosialita ....
Bahkan satu kali ada yang sampe disusulin suaminya ke sekolah karena abis ngantar anak si istri malah nongrong di sekolah atau pergi shopping ulala......hihihi....
Pakaian ketika menjemput anak juga mesti diperhatikan... kalo kucel dan lusuhh ehmm. kayaknya gimanaa gt...
ada GIVE AWAY akhir semester.
Aku sampai kaget, karena anak pertamaku di sekolah negeri, setiap ambil rapor aku gak pernah bawa apa2.. tapi pas ambil rapor adeknya yang diswasta, aku kaget... lhaa kok emak2 ini pada bawa2 kado???? Siapa yang ulang tahun???? Oalllaahhhh....
Dan begitulah... jadi hubungan guru dan ortu deket banget.... Gurunya ramah bangett, "Hallo Bunda arkan... mamanya Nasya cantik banget..."
Tapi ini pendapat aku pribadi yaa (di sekolah swasta tu power ortu kuat banget ke guru2nya, mungkin karena rata2 gurunya masih muda, mungkin karena rata2 wali murid ini udah sering ngasi2 apa.... atau mungkin karena hubungan nya yg udah terlalu deket, atau mungkin karena banyak OKB jadi sombong.. harus di survey bener2 baru jelas ini, tapi intinya.... mereka kalo ngomong sama guru jarang banget sopan kaya wali murid di SD negeri... mereka suka perintah2.. contoh :
"Eh, Mr. kenapa sih si Angga gak dapat bintang kemaren? Mr ini gimana? masa udah capek2 gitu gak dikasi bintang Mr?" dan lain2 sebagainya. Emang sih ini oknum ya, alias gak semua... tapi cukup sering aku liat ketimbang di sekolah negeri.
Mungkin bagi sebagian orang ini gak minus ya, aku lihat banyak yang enjoy banget... khususnya wali murid yang memang berprofesi sebagai ibu RT, jadi ngantar dan nungguin anak disekolah jadi rutinitas baru, nambah temen, nambahh pengeluaran juga hahahah.....
Tapi tahan2 aja...
Cerita dikit ya,
Aku dulu pernah ikut (setelah bberp kali nolak) ikut arisan salah satu group wali murid....
Uang arisannya lumayan banyak, tapi buat aku yaa.. hitung2 nabung... cuma aku wanti2 ke anggota arisan yang lain kalo aku gak bisa selalu ikut arisan / ngafe karena kerjaan di kantor.
Sekalian menghindari pusingnya mikirin kostum yang bakal di pake saat arisan.
Kan gak mungkin jeung tiap kali foto arisan bajunya itu2 melulu.... nahhh... paham kan maksud eyke???? hahhaha...
Tapi tau gaakk, ternyata eh ternyata... pas udah giliran aku nerima nih (alias udah tinggal 3 orang lg aja yg belum nerima arisan termasuk aku) terkuaklah aib itu sodara-sodara...
Ternyata bendaharanya make duit arisan, dan gak sanggup balikin.... hingga aku dan 3 temen yang lain gak bisa nerima arisan lagi.. karena duitnya abis buat numbokin yang nerima arisan sebelumnya.
Kesel banget gak tuhhh????
Bayanginn ya... sosialitanya mereka, tas branded, baju branded, tapi gak ada yang mau tanggung jawab balikin duit yang aku setor setiap bulan... mereka yang udah nerima arisan full dari awall malah cuekk2 aja... Aaahhh orang kaya gimanaaa ituuhh????
#Curhattt juga kann akhirnyaa.....
Satu lagi, tapi ini cerita iparku, yang anaknya dr TK SD swasta, lalu masuk ke SMP negeri, disana dia jadi syok karena cara ngomong guru negeri itu umumnya rada kenceng dan gak begitu deket dan manja2 sama siswa (umumnya) jadi si anak agak kenak mentalnya disemester2 awal, gitu....
(Ini contoh satu kasus aja, gak bisa digeneralisasi ya)
KESIMPULAN
Disini sebenarnya aku cuma sharing aja, apa yang aku alamin... cerita dari sodara dan ipar2 ku jugaa....
Kita sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak kan ya?
Tapi kadang kita mau tapi gak mampu...
Intinya menurut aku, dimana pun anak sekolah atau tinggal.... benteng nya harus dibangun dalam keluarga. Itu penting! Kalo si anak udah dapat gambaran jelas mana yang baik dan mana yang buruk... dia akan bisa mem proteksi dirinya dr pengaruh buruk di luar sana
Agak susah ya bun, apalagi kalo emaknya sibuk gadget dan online (seperti sayahhh hiks)
Tapi balik2 lagi bun, ajak suami saling mengingatkan.. ciptakan moment bersama yang berkualitas
(Udah kayak pakar aja belum?)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment