Tuesday, July 22, 2014

Liburan, Uang dan Anak-anak


Subuh ini sehabis sahur saya iseng liat2 blog yang udah lamaaaaaa dicuekkin, kasian amat... kalo bukan ownernya yg liat siapa lagi ???? hehe...

Troz, tibah-tibah ketika lagi asyik adventuring dr blog ke blog, saya tertegun membaca tulisan di salah satu blog, tertulis disitu si empunya blog merasa sebal krn sering mendapatkan statement dr teman2nya sehabis pulang travelling
" puas-puasin aja jalan-jalan mumpung belum punya anak. nanti kalau udah punya anak, susah kemana-mana ".

 and so the rest of the writings complained and claimed that may be those regards children and money as obstacle for having a holiday or travelling.. then I commented,



lucu juga baca tulisannya mbak...
kok imagenya rada2 emosi gitu ya mbak...?

Maaf yaa.. mungkin maksudnya temen2 mbak itu bukan 'setelah punya anak ga bisa liburan' ato 'anak jd alasan' dsb.
Dan malam ketika kami menginap di hotel suami saya selalu bilang "Kangen honeymoon berdua aja sama mama, munkin kalo anak2 kita udah besar2 dan udah gak papa kalo ditinggal kita bisa honeymoon lagi ya ma kayak dulu. Kita bisa ngapa2in aja.....dst"
lalu saya bilang" iya pah, masalahnya kalo anak2 kita dah besar2 dan udah bisa ditinggal ato malah ga mau diajak lagi, kitanya yg gak kuat ngapa2in aja wkwkk..."

selintas kami menganggap itu adalah guyonan, namun dalam hati saya menyadari ada kerinduan dan kebutuhan suami untuk diperlakukan sebagai suami dan kekasih hati, bukan hanya sebagai ayah yang sibuk menggendong dan mengajak bercanda anak2nya selama liburan. Bagaimanapun, suami saya adalah laki2 yang masih membutuhkan perhatian khusus, tidak mengada2 mba, hanya seperti menggandeng tangannya ketika berjalan berdua, berpelukan berdua, dan hal2 yang sering di lakukan waktu pacaran dulu.

Mungkin jika dilakukan setiap hari akan bosan juga dan tidak terasa istimewa, namun bagi kami yang sibuk seharian bekerja dan malam menghabiskan waktu memastikan bahwa anak2 dapatkan quality time dg orang tuanya, memang kadang merasa iri juga liat pasangan suami istri yg melakukan travelling berdua, tanpa mengaggap anak dan uang adalah beban.
 


Now the point I wanna share here is not about reading and replying the blog, but about the essence of the talk. What about holiday and children ? .... and money? are they matters?

No.. No..No...
Jangan sampe anak2 kita menangis darah karena membaca artikel ini (Ohhhh orang tua kita menganggap kita ini beban buat liburan....hiks.. hiks.. hiks...)

Enggak Lah... That's entirely wrong opinion! pasti! Yakin! Anak adalah anugrah dan sampai kapanpun akan begitu... Seorang teman, sahabatku dia, keceplosan bicara begini ".... karena apa pun yang gw punya, gw tetep gak akan bisa menandingi lu, karena lu jauh lebih kaya dr gw, lu tau kenapa? karena lu punya anak2..."
sedih juga gw nulisnya... tapi pemirsa, sahabat saya ini jauh.. jauh... jauh  lebih dlm segala hal dr saya.. Tuhan maha pengasih dan penyayang, semua rahmat dan karunianya ada pada kita jika kita dapat membuka mata dan mensyukurinya, karena apa yang kita miliki belum tentu dimiliki oleh orang lain... setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri jika dibandingkan dengan orang lain, dalam bentuk apapun, baik yg kita sadari ataupun yang tidak kita sadari.saya percaya itu... karena Tuhan Maha Adil pada umatnya ...... dan kalau kita fokus pada apa yg kita miliki dan mensykurinya maka Tuhan akan menambahnya....Aminnn...

Ok now let's get back to the point...

Menurut saya, kita para orang tua bekerja mencari nafkah untuk memastikan agar anak2 kita mendapatkan apa yg mereka butuhkann, pakaian, makanan, pendidikan, perhatian dan kasih sayang...
Huff.. menuliskannya saja sudah gemetar, saya belum mampu memenuhi semua itu, kebutuhan lseperti mobil dan rumah mengurangi jatah anak2 untuk les, dan mendapatkan pakaian yg bagus (terus-menerus).
Disisi lain, kekuarangan ini saya manfaatkan untuk mengajarkan anak hidup 'prihatin' dan sabar.
Pengalaman membuktikan bahwa anak yg dibesarkan dengan memenuhi semua yg diinginkannya dan UANG, not becoming into positive result. Anak menjadi manja dan semakin banyak menuntut untuk dibelikan lebih dan mendapatkan lebih....

Perhatian dan kasih sayang saya berikan disela2 kesibukan saya yang (sibuk tak menentu), suami memberikan perhatian dan kasih sayangnya sepulang kerja. Sering kami memhabiskan waktu bersama sehabis mangrib dengan saling jahil2an dll... saya memilih utk meninggalkan aktivitas dapur dan sumur demi bermain bersama mereka.  Namun harus diakui, kahadiran gadget (HP papanya yg banyak game, dan sinetron Catatan Hati Seorang Istri ) mengurangi kebersamaan kami.
Saya bukan sinetron maniak, namun jujur efeknya sangat buruk bagi keluarga kami. Si kakak juga mulai kecanduan main game, setiap kali papanya pulang kerja yg ditanya 'HP papa mana?" dan setelah saya dan suami memutuskan utk menghapus game, kakak Yaya malah minjem ipad om nya (Hadowhhhhhh)
Pikir... Pikir... pikirrr!!!!

Keputusan untuk mengambil mobil dan rumah dengan cicilan yang WOWW memang mengganggu aktivitas liburan keluarga tahun ini, namun ketika kakak untuk ke dua kalinya memperoleh juara satu, saya memohon pada papanya utk mencarikan alternative liburan yg murah meriah.

Liburan memang penting bagi keluarga kami, karena anak2 mendapatkan perhatian dan kasih sayang penuh outdoor dan jauh dr gadget dan TV hehe... namun tak jarang anak2 kena marah juga selama liburan, abis bagaimana lagi masa kalo salah didiemin aja? yang salah tetep salah... bukan berarti mama ga sayang (gtu)

Alternative liburan yang pertama adalah ikud Andung-Angku (mertua saya) atao Kakek dan neneknya keluar kota, Ato ikud Aciknya (Adek Ipar saya) berenang... Jadi anak2 bisa liburan dan mama papanya bisa pacaran dulu sebentar hehehhee.....
Namun liburan dalam satu keluarga itu tetap penting, lalu sambil mengajarkan anak ilmu ekonomi saya bilang "Kak lebaran ini kita dirumah saja, karena kita kan kemaren beli rumah, jadi uang papa sama mama ga cukup buat jalan2 sekarang. Tapi papa sama mama kan masih kerja cari uang, biar uangnya cepat terkumpul, kakak bantu nabung ya... kalo sudah cukup akhir tahun nanti kita bisa pergi."

Saya  sadari tidak bisa memaksakan situasi pada anak umur 6 tahun seperti kakak Yaya. Hanya saja suatu hari, ketika saya dirumah sakit menemani papa yg dirawat dengan anak. Nyanya, anak saya unur 3,5 tahun duduk dengan neneknya sambil bercerita,
Nyanya :  " Nek, nyaya sekarang gak mau jajan2 lagi"
Nenek :  "Kenapa gak mau?"
Nyanya : "Iyaa... nyanya mau simpan uangnya buat beli pagar rumah.. nanti kalo jajan terus uang mama gak cukup untuk beli pagar, nanti masuk maling gimana?"

Subhanallah... anakku, kadang saya berfikir apakah terlalu dini mengajarkan anak hal-hal seperti itu.
Namun yang saya katakan benar adanya... dan  saya berkomitmen tidak akan mengatakan hal yang mengada2 pada anak2, atau istilahnya buat saya 'cerita di atas awan"

Suatu hari kakak main dirumah bersama teman2 sekolahnya yang umurnya jauh lebih besar dari Yaya (karena Yaya masuk SD umur  5 th dan alhamdulillah juara 1 dikelasnya, meskipun paling kecil umurnya)
Teman2nya bilang
Puput: Besok aku ke Jakarta sama papa aku
Nurul : Aku juga pergi liburan, besok mau ke Aceh.
Kakak Yaya: Aku juga mau ke Jakarta jugak.
Puput: Benar nih? Kamu gak bohong kan?

Kakak lantas berlari ke arahku sambil bertanya , "Ma, kita mau ke Jakarta juga kan ma?" katanya dengan penuh harap. Lalu aku bilang, "Mungkin kalo kakak rajin menabug, kelas 4 SD kita udah bisa liburan ke Jakarta, karena kalo ke Jakarta itu uangnya banyak nak, kita hatus bayar pesawat dulu, ongkosnya mahal."
Lalu kakak kembali gabung sama teman2nya sambil bilang,
"Iya aku mau ke Jakarta jugak nanti kelas 4 SD kata mamaku" lalu mereka membicarakan hal yg lain.

Memang saat keluarga beranjak settle ulai nyicil mobil dan rumah ada hal2 yang perlu di rem seperti halnya liburan. Namun liburan alternative seperti saya contohkan tadi bisa jadi solusi selain mengajarkan anak2 mandiri dan meberikan waktu bagi pasangan suami istri.
Atau minggu sore bisa menikmati ombak di Pantai atau ke taman bermain  kota dengan membayar karcis dan menghabiskan buget sekitar 50rb an.. murah meriah... namun anak2 tau bahwa orang tua tidak hanya meminta mereka belajar, mandi dan makan serta membersihkan rumah, tapi juga membiarkan mereka bermain dan menikmati masa kanak2 mereka.

Oiya, selain mengajarkan anak2 berhemat, anak juga diajarkan untuk tidak PELIT, karena HEMAT dan PELIT itu berbeda. Suatu hari kami jalan2 ke pusat grosir dan menemukan satu lusin bendo cantik yang harganya murah, saya pikir dengan membeli setengah lusin (Minimal boleh beli stengah) biasanya saya cuma dapat dua, jadi saya belilah dan saya bilang sama kakak, "Kak, ini bendo kita belinya banyak, kebetulan mama dan papa dapat uang lebihh ,buat kakak satu, adek satu, sisanya boleh kakak kasi teman2 kakak ya."
Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana gembiranya kakak ketika membagikan bendo kepada teman2nya
Baru turun mobil, langsung lari ke rumah temannya dan balik dengan teman2nya yg sudah memakai bendo dikepala sambil senyum2...

Yahhhh itulah cerita saya.. mencoba melalkukan yg terbaik buat anak2 dalam semua kekurangan saya sebagai ibu.....
Mencoba menyeimbangkan pendididkan kasih sayang perhatian dan liburan

Bukan masalah uang untuk liburan, bukan masalah anak2nya, bukan masalah apa2
Semua pasti ada jalan keluarnya
Insyaallah....
Amin



















Sunday, November 10, 2013

Analisis Wacana



A.     Wacana, Analisis Wacana, Analisis Wacana Kritik dan Diskursus

Wacana merupakan lingkup terluas pada kajian linguistik. Wacana memuat tentang bagaimana bahasa digunakan oleh manusia dan juga fungsi bahasa dengan berbagai macam pilihan bentuk yang terkonstruksi dalam pikiran manusia. Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantik yang berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak bahasa (what is said from what is done) dan diarahkan kepada masalah memakai bahasa secara fungsional.

Menurut Schiffrin (1994) dalam Oktavianus (2006) wacana adalah sepenggal bahasa yang tengah menjalankan fungsinya (language in use). Bahasa dalam konteks ini dapat berupa kata, frasa atau sebuah klausa saja. Dalam suatu tindak komunikasi, ujaran yang sedang dipakai mengandung suatu muatan makna yang didukung oleh berbagai komponen sehingga membentuk suatu teks. Teks-teks itu digunakan untuk mengekspresikan diri, menyampaikan maksud dan tujuan tertentu serta dapat juga mempengaruhi lawan tutur, atau hanya sekedar sekedar ungkapan basi-basi. Ini hampir senada dengan pendapat Rocour (2002 )  dalam Oktavianus (2006) bahwa wacana adalah relasi  antara peristiwa dengan makna. Dalam berkomunikasi melalui bahasa, seorang penutur menyampaikan pendapatnya, keinginannya dan tujuannya didalam wacana yang dapat berupa kata-kata, frasa atau kalimat yang mengandung makna dari si penutur yang ingin disampaikan kepada lawan tuturnya. Hal ini disebabkan adanya peristiwa tertentu yang terjadi sehingga menjadi topik dalam wacana yang diberikan. Peristiwa ini dapat berupa konteks, yaitu segala-sesuatu yang menyertai teks wacana yang disampaikan.

Berdasarkan penjelasan tentang wacana diatas, kita dapat mengambil contoh dari status-status pengguna facebook yang mengomentari adanya pemadaman lampu bergilir di kota Padang, seperti berikut ini:


Contoh wacana ini merupakan rangkaian kata-kata yang tengah menjalankan fungsinya untuk mengungkapkan kekesalan pengguna facebook karena pemadaman listrik telah menyebabkannya memakan bubur karena nasi yang dimasak dengan kompor listrik tidak dapat difungsikan lagi. Fungsi bahasa ini disampaikan melalui gaya bahasa sindiran kepada pihak PLN yang berwenang menangani persoalan listrik negara. Pemadaman listrik bergilir juga merupakan peristiwa atau konteks yang menyertai wacana sehingga pembaca dapat mengetahui makna sesungghnya dibalik ungkapan pada status pengguna facebook diatas.

Analisis wacana Kritis (Critical Discourse Analisis)
Analisis wacana termasuk ilmu yang baru muncul beberapa puluh tahun belakangan. Fakta menunjukkan bahwa pada mulanya analisis wacana justru dilakukan oleh pakar sosiologi, antropologi dan filsafat sementara kebanyakan aliran linguistik membatasi analisisnya hanya pada kalimat.

AWK berkembang dalam tradisi linguistik  di benua Eropa. Pusat-pusat perkembangannya antara lain di Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, Austria, dan Australia. Beberapa nama dapat disebut sebagai pengembang bidang kajian itu, antara lain Fairclough, van Dijk, Kress, dan Wodak.
Dalam beberapa karyanya, Fairclough (1989; 1995), misalnya, menyebut bahwa teorinya adalah gabungan dari linguistik fungsional-sistemik Halliday, linguistik Fowler, dan teori sosial baru Foucault.

Menurut Wodak dan Fairlough, analisis wacana kritis melihat sebuah wacana sebagai bentuk dari praktik sosial. Penelaahan atas wacana tidak hanya dilakukan pada level naskah namun dilanjutkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi naskah. Analisis wacana memiliki dua model, yaitu model Norman Fairlouch yang melihat teks memiiki konteks dan Ruth Wodak yang menilai teks mempunyai sejarah.

Analisis teks dimaksudkan untuk menemukan dan mengungkap makna, hal ini dapat diakukan dengan menganalisa bahasa secara kritis. Teks dianalisis unsur linguistiknya dengan cara melihat kosakata, tata kalimat dan semantik. Ia juga memasukkan unsur-unsur koherensi dan kohesivitas, yatu bagaimana antar kata atau kalimat tersebut disusun sehingga membentuk pengertian (Eriyanto, 2001)

Dalam thesis Anang Santosa diungkapkan bahwa analisis wacana kritis (critical discourse analysis) adalah analisis bahasa dalam penggunaannya dengan menggunakan paradigma bahasa kritis. Analisis wacana kritis (AWK) sering dipandang sebagai oposisi analisis wacana deskriptif yang memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata-mata. Dalam AWK, wacana tidak dipahami semata-mata sebagai kajian bahasa. AWK memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis. Hasilnya bukan untuk memperoleh gambaran dari aspek kebahasaan, melainkan menghubungkannya dengan konteks. Hal itu berarti bahwa bahasa itu dipergunakan untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.

Diskursus
Analisis praktik diskursus memusatkan perhatian pada bagaimana proses produksi dan konsumsi teks. Teks dibentuk lewat sebuah praktik diskursus yang nantinya menentukan bagaimana teks tersebut diproduksi. Semua praktik tersebut merupakan praktik diskursus yang membentuk wacana. Praktik inilah yang menentukan bagaimana teks tersebut terbentuk dalam wacana.

B. Teks, Pre-Teks, Konteks, Ko-Teks, Interteks
Teks adalah bahasa yang yang sedang menjalankan fungsi atau tugas tertentu seperti menyampaikan pesan atau informasi, dan biasanya dibarengi dengan konteks situasi. Bentuknya bisa percakapan dan tulisan  dari bentuk-bentuk yang kita gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan. Hal penting mengenai sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari makna-makna. Makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain dikodekan dalam tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output) ; sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai terjadi kesalahpahaman. Adapun kriteria teks sebagai berikut:
Kriteria yang bersifat internal teks:
Kohesi             : Hubungan antara bagian dalam teks yang ditandai dengan penggunaan unsur bahasa . Kohesi mengacu pada hubungan bentuk/surface structure.
Koherensi        : keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh/ deep structure.

Kriteria yang bersifat eksternal teks:
Intertekstualitas          : setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas             : cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah.
Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas (penerimaan informasi).
Informativitas             : kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas             : situasi tuturan
Fairlough melihat teks dalam berbagai tingkatan. Sebuah teks tidak hanya menampilkan bagaimana sebuah objek digambarkan sekaligus bagaimana hubungan antar objek didefinisikan. Setiap teks pada dasarnya dapat diuraikan dan dianalisis pada ketiga unsur berikut:
UNSUR
YANG INGIN DILIHAT
Representasi
Bagaimana peristiwa, orang, kelomok, situasi, keadaan ataupun yang ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
Relasi
Bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks
Identitas
Bagaimana identitas wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Konteks
Konteks adalah segala sesuatu yang menyertai teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan kata depan, kata sifat, kata kerja, kata kerja bantu, dan proposisi positif. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana. 
Teks dan konteks merupakan sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks
Konteks memasukkan semua situasi dan berbagai hal yang ada diluar teks dan memiliki pengaruh dalam pemakaian bahasa, contohnya: partisipan dalam bahasa, keadaan dimana teks itu diproduksi, fungsi yang dimaksud dan lain-lain.
Koteks
Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana.  Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf, dan bahkan wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau memperjelas makna.
Contoh:
Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.

Wacana dua adalah peringatan bagi orang yang akan melewati jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks (teks penjelas) bagi teks lainnya.

Interteks

Interteks bermaksud sesuatu wacana bergantung kepada wacana yang lain.  Melalui interteks, sesuatu wacana lebih mudah difahami oleh pembaca atau pendengar.  Kefahaman seseorang terhadap sesuatu wacana yang dibaca atau didengar akan membantu menghasilkan wacana.




Istilah intertekstual pada umumnya dipahami sebagai hubungan suatu teks dengan teks lain. Menurut Kristeva, tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain.  Kristeva berpendapat bahwa setiap teks terjalin dari kutipan, peresapan, dan transformasi teks-teks lain. Sewaktu pengarang menulis, pengarang akan mengambil komponen-komponen teks yang lain sebagai bahan dasar untuk penciptaan karyanya. Semua itu disusun dan diberi warna dengan penyesuaian, dan jika perlu mungkin ditambah supaya menjadi sebuah karya yang utuh

3. Cari teks sederhana dan analisis dengan menggunakan salah satu pendekatan dari sekian banyak pendekatan dalam analisis wacana!

Seperti yang telah diuraikan dalam pengertian wacana diatas, Schiffrin (1994) dalam Oktavianus (2006) wacana adalah sepenggal bahasa yang tengah menjalankan fungsinya (language in use). Bahasa dalam konteks ini dapat berupa kata, frasa atau sebuah klausa saja. Dalam suatu tindak komunikasi, ujaran yang sedang dipakai mengandung suatu muatan makna yang didukung oleh berbagai komponen sehingga membentuk suatu teks. Teks-teks itu digunakan untuk mengekspresikan diri, menyampaikan maksud dan tujuan tertentu serta dapat juga mempengaruhi lawan tutur, atau hanya sekedar sekedar ungkapan basi-basi.

Sebuah situs jejaring sosial facebook, menfasilitasi penggunanya mengekspresikan diri, menyampaikan maksud, tujuan serta perasaannya dalam bentuk teks. Teks tersebut kemudian berupa status yang dapa dibaca oleh semua teman facebooknya. Berkenaan dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang ada di kota Padang, Sumatera Barat, banyak pengguna facebook yang mengekspresikan kekesalannya, sindirannya serta umpatannya di status facebook. Jenis-jenis teks yang disampaikan sangat menarik karena memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda diantaranya adalah ironi, sinisme, hiperbola, paradoks serta pertanyaan retoris.

Sementara itu,  Rocour (2002 )  dalam Oktavianus (2006) menyatakan bahwa wacana adalah relasi  antara peristiwa dengan makna. Dalam berkomunikasi melalui bahasa, seorang penutur menyampaikan pendapatnya, keinginannya dan tujuannya didalam wacana yang dapat berupa kata-kata, frasa atau kalimat yang mengandung makna dari si penutur yang ingin disampaikan kepada lawan tuturnya. Hal ini disebabkan adanya peristiwa tertentu yang terjadi sehingga menjadi topik dalam wacana yang diberikan. Peristiwa ini dapat berupa konteks, yaitu segala-sesuatu yang menyertai teks wacana yang disampaikan.

Berdasarkan penjelasan tentang wacana diatas, kita dapat mengambil contoh dari status-status pengguna facebook yang mengomentari adanya pemadaman lampu bergilir di kota Padang, seperti berikut ini:


Contoh wacana ini merupakan rangkaian kata-kata yang tengah menjalankan fungsinya untuk mengungkapkan kekesalan pengguna facebook karena pemadaman listrik telah menyebabkannya memakan bubur karena nasi yang dimasak dengan kompor listrik tidak dapat difungsikan lagi. Fungsi bahasa ini disampaikan melalui gaya bahasa sindiran kepada pihak PLN yang berwenang menangani persoalan listrik negara. Pemadaman listrik bergilir juga merupakan peristiwa atau konteks yang menyertai wacana sehingga pembaca dapat mengetahui makna sesungghnya dibalik ungkapan pada status pengguna facebook diatas.


Pendekatan analisis wacana dapat dilihat dari perspektif Pragmatik. Pendekatan pragmatik digunakan karena banyaknya makna yang dapat diungkapkan didalam teks yang dituliskan oleh pengguna facebook dalam mengomentari pemadaman listrik bergilir. Pengungkapan makna-makna tersebut tidak dapat hanya dilihat secara semantik karena seringkali membutuhkan telaan yang dalam, sehingga pendekatan secara pragmatik sangat tepat untuk menganalisa bahasa yang digunakan dalam status-status tersebut.
Dalam studi pragmatik, bermacam-macam makna yang dikemukakan membutuhkan sejumlah aspek yang harus dipertimbangkan. Aspek-aspek tersebut adalah:
1.      Penutur dan lawan tutur
Dalam wacana status pengguna facebook, penutur dan lawan tutur adalah penulis status dan pembaca, serta pemberi komentar atas status tersebut. Aspek-aspek lain yang berhubungan dengan ini adalah :
Usia: remaja dan orang dewasa
Latar Belakang Sosial Ekonomi: Kalangan Menengah atau sedang, mereka yang dapat mengakses internet.
Pekerjaan: Ibu Rumahtangga, Dosen, Mahasiswa, dll
Jenis Kelamin: Pria dan Wanita
Tingkat Keakraban: Dekat dan Sedang. Antara Penulis, pembaca dan komentator biasanya adalah orang yang saling mengenal.

2.      Konteks tuturan
Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang relevan dari  tuturan yang bersangkutan.
Dalam hal ini konteksnya adalah adanya pemadaman lampu bergilir yang dilakukan oleh PLN mengganggu semua aktivitas masyarakat diberbagai profesi dan berbagai bidang kehidupan.

3.      Tujuan Tuturan
Bentuk – bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan. Dalam hubungan itu, bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Dalam hal ini berbagai bentuk status yang ada difacebook dengan komentar yang berbeda-beda memiliki maksud yang sama terhadap PLN, yaitu menyampaikan kekesalannya dan kesulitannya akibat pemadaman lampu tersebut.

4.      Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas
Bila gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dsb. Pragmatik berhubungan dengan tindak verbal (verbal act) yag terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding dengan tata bahasa.
-          Tuturan sebagai entitas yang konkret bagi penutur dan lawan tuturnya. Dalam hal ini status yang dituliskan penggunafacebook merupakan sesuatu yang jelas dan dapat dipahami dan dirasakan oleh pembaca ide dan pengalaman dari penulis status tersebut, terlebih karena pembaca dan komentator sering mengalami hal yang sama juga, yaitu pemadaman lampu.
-          Waktu yang digunakan umumnya adalah pada saat listrik mati dan pengguna facebook dapat menyatakan kekesalannya lewat laptop ataupun handphone.
-          Tempat pengutaraannya adalah di media jejaring sosial facebook yang merupakan tempat berkumpulnya  keluarga, sahabat, dan kenalannya.

5.      Tuturan sebagai bentuk tindak verbal
Tuturan yang digunakan didalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh pada status berikut ini:

Status diatas dapat ditafsirkan sebagai pernyataan atau perintah. Namun apabila kita mengetahui konteks pragmatiknya secara jelas, kita akan memahami maksud dari status tersebut sebenarnya bukanlah untuk meminta PLN mematikan lampu, namun hanya untuk  menginformasikan bahwa dia sedang bersiap-siap menerima pemadaman listrik tersebut.
Lebih lanjut dalam pendekatan pragmatik, pembahasan dapat dilihat dari tindak tutur, implikatur, presuposisi, deiksis, kesantunan berbahasa.
Implikatur
Implikatur merupakan segla sesuatu yang tersembunyi dibalik penggunaan bahasa yang secara aktual, benar dan sesungguhnya. Sehingga apa yang tampak pada teks atau bahasa secara struktural benar memiliki makna yang tidak dapat hanya dijelaskan secara semantik. Namun memerlukan kajian mendalam tentang teks dan konteksnya sehingga dapat memperoleh makna yang sesungguhnya. Contoh dalam Wijana (1996:39) :

(1)   A. Bambang datang
B. Rokoknya disembunyikan

Pada contoh (1) A, kita dapat mengetahui ada yang datang bernama Bambang. Namun melihat reaksi pada B yang mengatakan “Rokoknya disembunyikan.” Memberikan implikasi sebagai berikut:
a.       Mungkin Bambang ini seorang  Perokok berat sehingga tiap kali melihat rokok dia akan langsung merokok.
b.      Bambang adalah seorang yang pelit dan suka meminta rokok secara gratis kepada teman-temannya.

Konsep implikatur

Implikatur merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal:

Pertama           : konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional atas fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori-teori linguistik.
Kedua             : konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda yang dikatakan secara lahiriah.
Contoh:
A: Jam berapa sekarang
B: Korannya sudah datang

Secara konvensional tuturan, kedua kalimat itu tidak berkaitan. Namun kita dapat melihat implikasi bahwa koran datang selalu pada pukul 7 pagi, misalnya. Sehingga kalau koran sudah datang kemungkinan waktu yang ditunjukkan adalah lewat pukul 7 pagi.

Ketiga: Konsep implikatur  dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik.

Contoh:
A: Mungkin ada kehidupan di planet mars
B: Mungkin ada kehidupan di planet Mars mungkin pula tidak.

Kalimat A  sudah mengandung pengertian yang terkandung pada kalimat B.

Keempat          : konsep implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta atau gejala yang secara lahiriah berkaitan.
Contoh: Dia cantik ya..

Ujaran dia cantik diatas tidak memiliki makna yang sebenarnya namun dikatakan untuk menyindir seorang perempuan. Dari contoh ini dapat dilihat bahwa cara kerja metafora, gaya bahasa dan peribahasa dapat dijelaskan oleh konsep implikatur.

Status diatas merupakan pertanyaan retoris yaitu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Pertanyaan ini diajukan oleh warga  yang bernama Nando kepada PLN, namun maknanya bukanlah untuk meminta PLN untuk mematikan listrik, namun hanya untuk mengungkapkan sindirannya terhadap perusahaan tersebut.
Implikasi yang dapat ditangkap dari status diatas adalah:
a.       Biasanya PLN mematikan listriknya, namun pada pukul 13.20 WIB tidak ada pemadaman listrik yang terjadi.
b.      Nando yakin bahwa PLN akan mematikan listrik sebentar lagi
c.       Nando sudah siap-siap menghadapi pemadaman listrik tersebut seperti telah mematikan peralatan elektronik yang mungkin dapat rusak dengan adanya pemadaman listrik tersebut.


Status diatas dapat digolongkan menjadi tindak tutur ekspresif yang merupakan ungkapan kekesalan penutur karena PLN mematikan listrik dipagi hari. Karena pada pagi hari banyak orang memerlukan listrik untuk berbagai keperluan rumah tangga, akademis maupun perkantoran. Dari status diatas dapat diimplikasikan hal-hal sebagai berikut:
a.       PLN mematikan listrik dipagi hari
b.      Banyak anggota masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi membutuhkan listrik di pagi hari untik melaksanakan rutinitasnya.
c.       Neri seorang ibu rumah tangga dan Neri sangat membutuhkan listrik untuk mencuci dan memasak nasi. Sehingga adanya pemadaman listrik menyusahkan Neri yang harus memasak dan mencuci secara manual yang lebih menyita waktu dan tenaga.

Status diatas juga merupakan tindak tutur ekpresif dengan mengubah sebuah ungkapan yang bersifat umum seperti tiada hari tanpa membaca. Namun pada konteks ini, penulis mengganti membaca dengan mati lampu. Meskipun sebenarnya yang dimaksud adalah mati listrik. Namun .masyarakat pada umumnya lebih sering mengatakan “mati lampu” dari pada “mati listrik atau listrik mati”.
Status diatas memberikan implikasi sebagai berikut:
a.       PLN mematikan listrik setiap hari
b.      PLN menyebabkan lampu-lampu di rumah Dewi mati
Status diatas mengandung makna direktif yang bersifat mempengaruhi. Pembaca status ini akan mendapatkan ide bahwa ketika listrik dimatikan, banyak sekali pekerjaan kantor yang tidak dapat lagi dikerjakan sehingga pilihan yang terbaik adalah dengan meninggalkan kantor. Hal ini meskipun tidak akan mendapatkan reaksi yang spontan namun ada benarnya juga. Tujuan dari orang yang menyatakan status ini dapat diperluas lagi menjadi efek yang lebih besar, sehingga apabila banyak pekerjaan dikantor yang tidak dapat dikerjakan, maka perusahaan akan mengalami kegagalan, dan akan berdampak buruk bagi perekonomian pemilik perusahaan beserta karyawannya.
Implikasi diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       PLN mematikan listrik
b.      Listrik di kantor Dewi mati, lampu mati
c.       Karyawan di kantor Dewi tidak dapat bekerja karena komputer mereka harus dihidupkan dengan listrik.
d.      Kantor Dewi tidak menghidupkan Genset atau tidak memilikinya.
e.       Karyawan di kantor Dewi hanya duduk-duduk saja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya.
f.       Dewi berpendapat bahwa lebih baik pulang ke rumah dan bertemu anak-anaknya dari pada di kantor tidak melakukan apa-apa.

Kesimpulan
Dari berbagai jenis tindak tutur, implikatur serta gaya bahasa dari analisis diatas dapat dilihat bahwa dengan melakukan analisis wacana pragmatik kita dapat menyingkap  realitas sosial. Dan bahasa menfasilitasi kita untuk dapat menganalisanya secara ilmiah.
Berbagai kesulitan yang dialami oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi akibat adanya pemadaman listrik bergilir dapat dilihat dengan menelaah implikatur dari status mereka. Selain itu gaya bahasa yang digunakan merupakan hal yang juga sangat menarik untuk diteliti.